still

aku terpejam mata langsung terkifirkan kau. aneh, setiap kali kau datang dalam ingatan bila mata aku tertutup hanya memori manis saja yang terkenang. aku teringat satu malam badan kau di atas badan aku. kau pandang aku dan aku pandang kau. we spoke love through our eyes. dua-dua tersenyum. we made love like the many nights before and after.

tangan aku merayau ke bawah. i touched myself exactly how you used to touch me. and when i was done the words came out of my mouth in a single breath. macam dulu. “i love you”. aku terdengar suara aku dan tiba-tiba aku menangis. kau tiada. dah lama kau tiada. tapi aku masih mencinta. and i miss you all the way to my bones. i let myself cry into my own curled up body for a while. and then i got up and saw you and her talking.

it made me feel sick in my stomach. sampai hati kau.

fucking ironic

Dan terjadi lagi
Kisah lama yang terulang kembali
Kau temukan lagi
Dari cinta rumit yang kau jalani

Aku ingin kau merasa
Kamu mengerti aku mengerti kamu
Aku ingin kau sadari
Cintamu bukanlah dia

Dengar laraku
Suara hati memanggil namamu
Karena separuh aku
Dirimu

Ku ada di sini
Pahamilah kau tak pernah sendiri
Karena aku selalu

Di dekatmu saat engkau terjatuh

Aku ingin kau merasa
Kamu mengerti aku mengerti kamu
Aku ingin kau sadari
Cintamu bukanlah dia

Dengar laraku
Suara hati memanggil namamu
Karena separuh aku
Dirimu

Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Karena separuh aku
Menyentuh laramu
Semua lukamu telah menjadi lirihku
Karena separuh aku
Dirimu

— Noah, ‘Separuh Aku’

kita dari kacamata aku

 

kita dari kacamata aku saling mencinta
satu peristiwa panjang yang tak ku duga
dua insan yang jatuh hati pada detik sama
sepasang kekasih yang tak serik berasmara

kita dari kacamata aku ditentukan takdir
walaupun permulaannya penuh khuatir
dan perlayarannya dibidas ribut dan petir

kita dari kacamata aku menunggu sempurna
tapi kau akhirnya berdusta

kita dari kacamata aku masih terang dalam ingatan

nyawa aku

aku cuba fikirkan bahagian mana kewujudan aku yang paling terkesan dalam kehidupan aku sebagai orang aneh. that word again, “aneh”. nak kata “queer” tapi rasa macam tak padan. macam asing.

everything about my being feels inauthentic. except for my feelings. even then, only when the feeling is love. cinta saja satu-satunya yang aku rasa sebati dengan diri aku yang aneh ini. itu pun bila aku mencinta. tanpa rasa cinta aku rasa macam orang biasa.

orang “biasa”. what does that even fucking mean. does it mean that when i’m not in love i feel “straight”. or asexual. or does it mean that when i’m not in love i don’t feel queer. is love the only thing that defines my queerness. i struggle with this question today.

kenapa bila aku tanya soalan ini pada diri aku, aku rasa kecil semacam. aku rasa sedih mendalam. aku rasa teramat keseorangan. bila aku fikirkan perasaan cinta yang pernah aku rasa, perut aku mengulas dan jantung aku mengecut. macam trauma.

perasaan cinta sesuatu yang sangat berat bagi aku. aku pejam mata dan cuba cari sumber cinta bila ia membuah dalam diri aku. nyawa. aku ikut arus cinta yang mengalir dalam badan aku ke pangkalnya. nyawa. seperti mata air yang keluar melalui satu rongga, seperti kilat yang menyambar satu titik sentuh. nyawa. perasaan cinta bagi diri aku asalnya, destinasinya, takungannya adalah nyawa aku sendiri.

i’ve only been in love twice my entire life. OK maybe tiga kali. tapi yang satu itu aku tak pasti kalau ia cinta. mungkin dengan dia ia perasaan sayang. when i reflect on that time my soul is unaffected. jadi mungkin love tapi bukan “in love”.

i’ve been attracted to a number of people. guys and girls. tapi tarikan tak semestinya menghasilkan cinta. jadi apa tentang seseorang yang menghasilkan cinta dalam nyawa aku ini. aku tak tahu.

aku pernah jatuh cinta hanya dua kali dan kedua mereka sangat berbeza. rupa lain. cara bertutur lain. personaliti lain-lain. they each have such different temperaments. they don’t make a “type” and so i don’t think i have a “type”.

mungkin ini sebab aku tulis nota hari ini. aku nak cari corak dan hubungan antara diorang supaya aku tahu apa yang buat nyawa aku mencinta. dan mungkin bila aku tahu aku akan dapat bina perisai raksasa untuk bendung nyawa aku daripada mencinta.

because each time i fall in love the vibration of that emotion is so fucking intense it causes my soul to crack. and when someone i love, and who loves me back, takes their love away…..i’m left alone with my fractured soul. and this is the worst kind of feeling.

dalam dewasa aku hanya pernah jatuh cinta dua kali.

two girls. dua perhubungan yang teramat intim.

i fell so badly in love and my soul is traumatised. ini hakikat.

 

ulang tahun ke-sepuluh aku

sepuluh tahun dulu aku jatuh cinta buat kali pertama. dia perempuan. OK let’s start there.

ten years ago my life changed forever. if i knew then that in the ten years to come i would be in such a sorrowful state, feeling so alone, lost and utterly flawed…..i would’ve hit the brakes so goddamn fucking hard and steered my life somewhere else.

sepuluh tahun dulu kalau dapat aku pintas diri ini ke jalan alternate, sekalipun hidup aku porak-peranda sekurang-kurangnya aku berteman, ada ramai kawan yang boleh empati dengan dugaan aku, boleh menangis tanpa bersembunyi.

but here i am. solitary. crestfallen. distrustful.

tak pernah aku jangka hari nan hiba aku lucutkan nama semata-mata untuk bersuara. untuk mengeluh. untuk sembuh. who the fuck would’ve thought i’d “celebrate” ten years of queer life by being an anonymous fucking blogger.

aku benci perkataan “blogger”. bunyinya remeh, macam perihal budak-budak. macam orang tak cukup umur yang tak ada kerja lain. macam remaja tengah bergolak dengan emosi sendiri, tak tau apa nak buat selain memekak dalam “blog”. aku dah tua, setan.

“blog”. dengarkan bunyinya. how can anyone take this word and its verb seriously? it sounds silly, flimsy, immature. can i even take myself seriously doing this. but writing this does feel fucking serious. no it doesn’t. it feels pathetic.

and bad enough i’m “blogging”, i’m also anonymous. anonymity is something for those at risk. anonymity is something for those on the fringe who need it just to stay alive. anonymity is not for me. yet here i am. i’m despondent.

aku start rintihan aku hari ini. bulan april, bulan yang paling sial dalam sejarah sepuluh tahun aku hidup sebagai orang aneh. fuck you, april. sekali jadi, aku sabar. lebih daripada itu aku anggap sebagai deklarasi perang. fuck you. and fuck them too.

and fuck you, “aneh”. perkataan “queer” tak ada padanannya dalam bahasa melayu. dalam bahasa jiwa aku sendiri pun aku tak tahu nak panggil diri aku apa. what the fuck. how the fuck did i get here. but i’m here.

dan macam mana perasaan sayu sekelip mata boleh jadi marah membara?

i don’t fucking know. sebakul tahu kering…..yang tak menahu. what the fuck is going on.

why am i like this.